Oleh : Muhammad Yusup Sidik
Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia telah
menyatakan kemerdekaannya yang dibacakan oleh ir. Soekarno. Kemerdekaan yang
diimpikan oleh semua rakyat indonesia akhirnya telah tercapai juga. Perjuangan
yang tiada henti, pengorbanan yang tidak terhitung jumlahnya, dan pertumpahan
darah akhirnya berbuah manis dengan diproklamirkannya
kemerdekaan bangsa ini.
Dengan demikian maka rakyat akan terbebas dari segala bentuk penjajahan. Tidak ada lagi yang akan merampas hak rakyat indonesia, maka negri yang subur ini akan dinikmati oleh rakyatnya tanpa adanya penindasan dan penyiksaan yang di lakukan oleh tentara belanda, jepang dan portugis.
Dengan demikian maka rakyat akan terbebas dari segala bentuk penjajahan. Tidak ada lagi yang akan merampas hak rakyat indonesia, maka negri yang subur ini akan dinikmati oleh rakyatnya tanpa adanya penindasan dan penyiksaan yang di lakukan oleh tentara belanda, jepang dan portugis.
Namun, apakah kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para
pejuang terdahulu sudah kita rasakan sekarang?. Sudahkan rakyat ini sejahtera?.
Pertanyaan ini tidak perlu kita jawab, kita cukup melihat realitas yang terjadi
di sekeliling kita maka kita akan mengetahui jawabannya. Kesenjangan sosial
antara kaya dan miskin sangat tampak terlihat begitu jelas, terdapat begitu
banyak gedung-gedung mewah, hotel-hotel berbintang, dan apartement di kota-kota
besar seperti jakarta. Namun ketika kita melihat dalam kota yang sama yaitu
jakarta tepatnya di bawah jembatan terdapat sekelompok orang yang tinggal hanya
beralaskan tikar saja, tikar pun bagi mereka sudah sangat bagus. Masih banyak
rakyat miskin yang kelaparan, harus peras keringat banting tulang untuk
mencukupi kebutuhan hidupnya dan tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa
makan. Ironisnya, begitu banyak rakyat yang menderita dan kelaparan, para
anggota DPR ingin membangun gedung DPR yang baru dengan dalil untuk
meningkatkan kinerja para anggota DPR tersebut, selain itu banyak juga Anggota
DPR yang pergi untuk studi banding yang hanya menghambur-hamburkan uang rakyat
tanpa adanya peningkatan kinerja DPR. Belum lagi para anggota DPR dari
partai-partai besar yang terlibat korupsi, mulai dari kasus centuri, BLBI, wisma
atlit dan hambalang. Kasus korupsi ini sudah merambat kesemua lapisan, mulai
dari DPR, Gubernur, Bupati, Camat, bahkan Kepala Desa pun ada yang terlibat
Korupsi.
Selanjutnya apabila kita melihat sistem Pendidikan Indonesia
tentunya sangat menghawatirkan. Bagaimana tidak, setelah dua belas tahun kita
belajar bahasa indonesia sejak bangku SD sampai SMA ternyata kita masih belum
bisa menulis sebuah artikel dan harus belajar lagi di perguruan tinggi. Ini
adalah salah satu bentuk konkrit atas gagalnya Pendidikan yang ada di
Indonesia. Selain dari itu, banyak juga anak yang putus sekolah karena mahalnya
biaya pendidikan, sering kita lihat pula mereka mengemis dan mengamen di
pinggir jalan. Inilah realitas yang terjadi di Indonesia setelah 67 tahun
Bangsa ini merdeka. Apakah ini yang disebut dengan meredeka? Adanya kesenjangan
sosial, kemiskinan, kelapara, korupsi dan tidak meratanya Pendidikan. Dari
realitas inilah kita tidak pelu menjawab pertanyaan apakah kita sudah merdeka atau
belum? Sudah sangat jelas realitas yang terjadi jauh dari arti Merdeka yang
hakiki.
No comments:
Post a Comment