Blogger templates

blog

Pages

Tuesday, March 19, 2013

Umar Bin Khattab dan Moralitas Pemimpin Bangsa

Oleh: Kang YS
Kejayaan Ummat islam di awali sejak masa kepemimpinan Umar bin khattab, pada masa Umar lah kekuasaan Islam meluas dengan berhasil menaklukan wilayah Persia, Syam, Mesir, Irak, Burqah, Tripoli Barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah, dan Kairo. Dengan meluasnya kekuasaan isalam banyak orang yang mengganggap pada masa Kepemimpinan Umar bin Khattab adalah masa ekspansi dan penaklukan besar-besaran.

Umar tidak sekedar memperluas wilayah tanpa membangun isinya. Ia membangun perangkat pemerintahan yang memadai. Perangkat yang mampu mengakomodasi kekhilafahan yang yang terdiri atas puluhan Negara. Umar bin Khattab menciptakan sistem pemerintahan yang sebelumnya belum pernah dikenal oleh negeri manapun, ia membuat departemen-departemen, menciptakan pusat kas Negara (baitul mal), membentuk Majelis Permusyawaratan dan Dewan Pertimbangan, membuat jalur perhubungan dengan system pos, dan membentuk tentara militer. Lembaga kemasyarakatan yang berkembang pada pemerintahan Umar adalah institusi keuangan dan kehakiman. Lembaga kehakiman ini berdiri secara independen tanpa ada intervensi dari Negara, posisi pemimpin Negara dan rakyat biasa sama di hadapan hukum. Sehingga dari keindipendenan lembaga ini, dalam praktiknya pun mampu mengadili para pemimpin, para konglomerat, dan masyarakat biasa tanpa tendensi dan pilih kasih.
Selain pemberani, Umar bin Khattab juga di kenal sebagai seorang pribadi yang cerdas, seperti yang telah diriwayatkan oleh Al-Hakim dam Thabari dari ibnu Mas’ud berkata: “Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumu diletakan pada timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat.” Sehingga mayoritas sahabat pun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai Sembilan dari sepuluh Ilmu.
Namun, meskipun demikian tidaklah menjadikan pribadi Umar yang sombong hati. Justru denagan ilmu yang di miliki olehnya beliau menjadi seorang pemimpin yang zuhud dan wara’. Dalam satu riwayat dari Qatadah berkata: “Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Selain memakai baju yang dipenuhi dengan tambalan dari kulit, beliau juga hanya memiliki dua baju, sehingga Umar bin Khattab sering terlambat shalat jum’at karena menunggu bajunya kering. Umar bin khattab pun tidak tinggal di istana yang mewah dan megah dengan fasilitas serba ada, akan tetapi beliau hidup di rumah yang sederhana di antara gang-gang kecil dengan pakaian yang sederhana pula.
Tanggung jawab Umar atas amanah yang ia emban menjadi khalifah sangat besar sekali, beliau berusaha untuk mengetahui keadaan, kebutuhan rakyatnya, dan mencoba memenuhi setiap kebutuhan rakyatnya. Sehingga sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Umar sangat begitu merakyat, setiap malam beliau selalu berkeliling sendirian untuk melihat kondisi rakyatnya, baginya laporan dari para pembantunya tidak cukup jika tidak melihat dan menyaksikan secara langsung apa yang terjadi dengan rakyatnya.
Umar sangat khawatir sekali apabila ada rakyatnya yang kelaparan, karena di akhirat kelak Dia akan di minta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Beliau selalu mementingkan kepentingan rakyatnya dari pada kepentingan pribadinya, sehingga beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang. Umar pernah berkata: “Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka Umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.” Dan Dia pun sangat khawatir jika ada keledai yang jatuh di jalanan akibat jalan yang berlubang, karena itu ia segera mempebaikinya.
Selain kesederanaan, kezuhudan, dan sika wara’ Umar dalam berprilaku, beliau pun sangat berhati-hati dalam membelanjakan dan menggunakan harta Negara. Ketika anaknya mengunjunginya di malam hari untuk membicarakan masalah keluarga dia mematikan lampu minyak ruangan kantornya. Dia sangat khawatir menghabiskan yang bukan khaknnya untuk kepentingan pribadinya. Seorang gubernur pada masa kepemimpinan Umar harus menandatangani pernyataan bahwa seprang gubernur harus mengenakan pakaian sederhana, makan roti yang kasar, dan setiap orang yang ingin mengadukan suatu hal bebas menghadapnya setiap saat.
Sealain itu, Umar tidak mau menerima gaji yang besar walaupun tanggung jawab yang beliau emban sangat besar. Beberapa kali para sahabat mengusulkan agar Umar mau menerima gaji yang sesuai dengan tanggung jawabnya, namum ia menolaknya bahkan ia pun marah atas usulan itu. Umar pun tidak mau melihat anaknya hidup berfoya-foya walaupun ayahnya seorang khalifah.
Namun, apabila kita melihat realitas para pemimpin yang ada di negri ini sangat jauh dari sosok yang ada pada pribadi Umar bin Khattab. Jabatan sudah bukan lagi menjadi sebuah amanah, tapi dijadikan sebagai sebuah pekerjaan yang dapat menghasilkan uang, jika modal yang dikeluarkan untuk menjadi pemimpin menghabiskan uang banyak, maka setelah habis masa jabatanny uang itu harus kembali bahkan harus berlipat ganda melebihi modal awal. Betapa tidak, uang yang harus di keluarkan untuk menjadi pemimpin (Kepala Daerah, Gubernur, dan Presiden) itu sangat besar. Maka cara apapun akan dilakukan untuk mengembalikan uang kampanye tersebut. Sungguh penyalahgunaan jabatan yang mengakibatkan murka Allah.
Di salah gunakannya jabatan sebagai sebuah pekerjaan menjadi titik awal timbulnya korupsi,  maraknya kasus korupsi mulai dari kasus BLBI, Kasus Century, Gayus, Wisma Atlit, Hambalang dll. Merupakan salah satu contoh dari penyalahgunaan jabatan. Selain itu para penegak hukun pun sudah tidak independent dalam melaksanakan kewajibannya. Apabila pejabat dan orang kaya yang terjerat kasus, maka mereka akan selamat dari hukum, namun apabila rakyat kecil yang terjerat kasus maka tidak akan selamat dari hukuman.
Selain penyalahgunaan jabatan, sebuah pemandangan yang biasa kita lihat gaya hidup yang bermewah-mewahan para pemimpin bangsa ini di tengah-tengah keprihatinan rakyat. Masih banyak anak yang putus sekolah karena mahalnya biaya sekolah, kelaparan dimana-mana, rakyat harus peras keringat banting tulang demi mendapatkan sesuap nasi. Sementara para elit pemimpin bangsa ini menikmati fasilitas Negara yang sebenarnya adalah milik rakyat. Gaji yang besar, mobil mewah serta semua fasilitas yang diberikan menjadikan mereka lupa atas penderitaan yang dialamai oleh rakyatnya.
Para pemimpin bangsa ini tidak pernah melihat kondisi dan keadaan rakyatnya secara langsung, Sebelum menjadi pemimpin mereka selalu turun langsung melihat secara real kondisi masyarakat yang terjadi, namun ini dilakukan bukan semata-mata terpanggil hatinya untuk melihat keadaan masyarakat kecil, tapi hanya strategi yang digunakan untuk menarik simati dari masyarakat, mereka hanya mengumbar janji palsu belaka. Setelah mereka terpilih menjadi pemimpin atau wakil rakyat, seoloah-olah mereka lupa atas janji yang mereka ucapkan setiap berkampanye.
 Pemilihan Kepala Negara (Presiden) akan berlangsung pada tahun 2014, namun sekarang saja sudah bermunculan nama-nama yang akan mencalonkan sebagai Capres dan Cawapres dan sudah mulai mengambil start berkampanye untuk mencari simpati masyarakat. Begitu banyak orang yang ingin menjadi pemimpin, padahal menjadi pemimpin adalah amanah yang ssngat besar yang harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Berbeda dengan Umar yang menjadi khalifah atas usulan Abu Bakar dan di sepakati oleh para sahabat, dan Umar merasa sangat berat untuk menjadi seorang pemimpin karena pertanggungjawabannya dihadapan Allah.
Bangsa Indonesia merindukan sosok Umar bin Khattab dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa ini, keberaniannya, kecerdasannya, kesederhanaannya, turun ke lapangan, dan kehati-hatiannya dalam masalah hak Negara. Mudah-mudahan para calon pemimpin yang akan datang mampu meneladani Umar bin Khattab sehingga Negara ini akan menjadi Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Amin.
Muhammad Yusup Sidik
Mahasiswa UIN SUNAN KALIJAGA Yogyakarta
085311505104/asshiddiq@yahoo.co.id



No comments:

Post a Comment