Oleh: Kang YS
Kejayaan Ummat islam di awali sejak masa
kepemimpinan Umar bin khattab, pada masa Umar lah kekuasaan Islam meluas dengan
berhasil menaklukan wilayah Persia, Syam, Mesir, Irak, Burqah, Tripoli Barat, Azerbaijan,
Jurjan, Basrah, Kufah, dan Kairo. Dengan meluasnya kekuasaan isalam banyak
orang yang mengganggap pada masa Kepemimpinan Umar bin Khattab adalah masa
ekspansi dan penaklukan besar-besaran.
Umar tidak sekedar memperluas wilayah tanpa membangun isinya.
Ia membangun perangkat pemerintahan yang memadai. Perangkat yang mampu
mengakomodasi kekhilafahan yang yang terdiri atas puluhan Negara. Umar bin
Khattab menciptakan sistem pemerintahan yang sebelumnya belum pernah dikenal
oleh negeri manapun, ia membuat departemen-departemen, menciptakan pusat kas
Negara (baitul mal), membentuk Majelis Permusyawaratan dan Dewan
Pertimbangan, membuat jalur perhubungan dengan system pos, dan membentuk
tentara militer. Lembaga kemasyarakatan yang berkembang pada pemerintahan Umar
adalah institusi keuangan dan kehakiman. Lembaga kehakiman ini berdiri secara
independen tanpa ada intervensi dari Negara, posisi pemimpin Negara dan rakyat
biasa sama di hadapan hukum. Sehingga dari keindipendenan lembaga ini, dalam
praktiknya pun mampu mengadili para pemimpin, para konglomerat, dan masyarakat
biasa tanpa tendensi dan pilih kasih.
Selain pemberani, Umar bin Khattab juga di kenal
sebagai seorang pribadi yang cerdas, seperti yang telah diriwayatkan oleh
Al-Hakim dam Thabari dari ibnu Mas’ud berkata: “Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakan pada tepi timbangan yang
satu dan ilmu seluruh penghuni bumu diletakan pada timbangan yang lain, niscaya
ilmu Umar bin Khattab lebih berat.” Sehingga mayoritas sahabat pun
berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai Sembilan dari sepuluh Ilmu.
Namun, meskipun demikian tidaklah menjadikan pribadi
Umar yang sombong hati. Justru denagan ilmu yang di miliki olehnya beliau
menjadi seorang pemimpin yang zuhud dan wara’. Dalam satu riwayat dari Qatadah
berkata: “Pada suatu hari Umar bin
Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi
dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah,
sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu
orang-orang.” Selain memakai baju yang dipenuhi dengan tambalan dari kulit,
beliau juga hanya memiliki dua baju, sehingga Umar bin Khattab sering terlambat
shalat jum’at karena menunggu bajunya kering. Umar bin khattab pun tidak
tinggal di istana yang mewah dan megah dengan fasilitas serba ada, akan tetapi
beliau hidup di rumah yang sederhana di antara gang-gang kecil dengan pakaian
yang sederhana pula.
Tanggung jawab Umar atas amanah yang
ia emban menjadi khalifah sangat besar sekali, beliau berusaha untuk mengetahui
keadaan, kebutuhan rakyatnya, dan mencoba memenuhi setiap kebutuhan rakyatnya.
Sehingga sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Umar sangat begitu merakyat,
setiap malam beliau selalu berkeliling sendirian untuk melihat kondisi rakyatnya,
baginya laporan dari para pembantunya tidak cukup jika tidak melihat dan
menyaksikan secara langsung apa yang terjadi dengan rakyatnya.
Umar sangat khawatir sekali apabila
ada rakyatnya yang kelaparan, karena di akhirat kelak Dia akan di minta
pertanggung jawaban atas rakyatnya. Beliau selalu mementingkan kepentingan
rakyatnya dari pada kepentingan pribadinya, sehingga beliaulah yang lebih
dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang. Umar pernah berkata: “Seandainya
ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka Umar merasa takut
diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.” Dan Dia pun sangat khawatir jika
ada keledai yang jatuh di jalanan akibat jalan yang berlubang, karena itu ia
segera mempebaikinya.
Selain kesederanaan, kezuhudan, dan
sika wara’ Umar dalam berprilaku, beliau pun sangat berhati-hati dalam
membelanjakan dan menggunakan harta Negara. Ketika anaknya mengunjunginya di
malam hari untuk membicarakan masalah keluarga dia mematikan lampu minyak
ruangan kantornya. Dia sangat khawatir menghabiskan yang bukan khaknnya untuk
kepentingan pribadinya. Seorang gubernur pada masa kepemimpinan Umar harus
menandatangani pernyataan bahwa seprang gubernur harus mengenakan pakaian
sederhana, makan roti yang kasar, dan setiap orang yang ingin mengadukan suatu
hal bebas menghadapnya setiap saat.
Sealain itu, Umar tidak mau menerima
gaji yang besar walaupun tanggung jawab yang beliau emban sangat besar.
Beberapa kali para sahabat mengusulkan agar Umar mau menerima gaji yang sesuai
dengan tanggung jawabnya, namum ia menolaknya bahkan ia pun marah atas usulan
itu. Umar pun tidak mau melihat anaknya hidup berfoya-foya walaupun ayahnya
seorang khalifah.
Namun, apabila kita melihat realitas
para pemimpin yang ada di negri ini sangat jauh dari sosok yang ada pada
pribadi Umar bin Khattab. Jabatan sudah bukan lagi menjadi sebuah amanah, tapi
dijadikan sebagai sebuah pekerjaan yang dapat menghasilkan uang, jika modal
yang dikeluarkan untuk menjadi pemimpin menghabiskan uang banyak, maka setelah
habis masa jabatanny uang itu harus kembali bahkan harus berlipat ganda
melebihi modal awal. Betapa tidak, uang yang harus di keluarkan untuk menjadi
pemimpin (Kepala Daerah, Gubernur, dan Presiden) itu sangat besar. Maka cara
apapun akan dilakukan untuk mengembalikan uang kampanye tersebut. Sungguh
penyalahgunaan jabatan yang mengakibatkan murka Allah.
Di salah gunakannya jabatan sebagai
sebuah pekerjaan menjadi titik awal timbulnya korupsi, maraknya kasus korupsi mulai dari kasus BLBI,
Kasus Century, Gayus, Wisma Atlit, Hambalang dll. Merupakan salah satu contoh
dari penyalahgunaan jabatan. Selain itu para penegak hukun pun sudah tidak
independent dalam melaksanakan kewajibannya. Apabila pejabat dan orang kaya
yang terjerat kasus, maka mereka akan selamat dari hukum, namun apabila rakyat
kecil yang terjerat kasus maka tidak akan selamat dari hukuman.
Selain penyalahgunaan jabatan, sebuah
pemandangan yang biasa kita lihat gaya hidup yang bermewah-mewahan para
pemimpin bangsa ini di tengah-tengah keprihatinan rakyat. Masih banyak anak
yang putus sekolah karena mahalnya biaya sekolah, kelaparan dimana-mana, rakyat
harus peras keringat banting tulang demi mendapatkan sesuap nasi. Sementara
para elit pemimpin bangsa ini menikmati fasilitas Negara yang sebenarnya adalah
milik rakyat. Gaji yang besar, mobil mewah serta semua fasilitas yang diberikan
menjadikan mereka lupa atas penderitaan yang dialamai oleh rakyatnya.
Para pemimpin bangsa ini tidak pernah
melihat kondisi dan keadaan rakyatnya secara langsung, Sebelum menjadi pemimpin
mereka selalu turun langsung melihat secara real kondisi masyarakat yang
terjadi, namun ini dilakukan bukan semata-mata terpanggil hatinya untuk melihat
keadaan masyarakat kecil, tapi hanya strategi yang digunakan untuk menarik
simati dari masyarakat, mereka hanya mengumbar janji palsu belaka. Setelah
mereka terpilih menjadi pemimpin atau wakil rakyat, seoloah-olah mereka lupa
atas janji yang mereka ucapkan setiap berkampanye.
Pemilihan Kepala Negara (Presiden) akan
berlangsung pada tahun 2014, namun sekarang saja sudah bermunculan nama-nama
yang akan mencalonkan sebagai Capres dan Cawapres dan sudah mulai mengambil
start berkampanye untuk mencari simpati masyarakat. Begitu banyak orang yang
ingin menjadi pemimpin, padahal menjadi pemimpin adalah amanah yang ssngat
besar yang harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Berbeda dengan Umar
yang menjadi khalifah atas usulan Abu Bakar dan di sepakati oleh para sahabat,
dan Umar merasa sangat berat untuk menjadi seorang pemimpin karena
pertanggungjawabannya dihadapan Allah.
Bangsa Indonesia merindukan sosok Umar
bin Khattab dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa ini, keberaniannya,
kecerdasannya, kesederhanaannya, turun ke lapangan, dan kehati-hatiannya dalam
masalah hak Negara. Mudah-mudahan para calon pemimpin yang akan datang mampu
meneladani Umar bin Khattab sehingga Negara ini akan menjadi Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Amin.
Muhammad Yusup Sidik
Mahasiswa UIN SUNAN KALIJAGA
Yogyakarta
085311505104/asshiddiq@yahoo.co.id

No comments:
Post a Comment