Bidang
Astonomi
Oleh: Kang YS
a. Penciptaan
Alam Semesta dari Asap Panas
“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan Asap, lalu
Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut
perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami
datang dengan suka hati". (Q.S Fushilat: 11)
Kata dukhan dalam ayat ini menggambarkan materi sebelum alam semesta
trebentuk, yaitu Asap kosmik panas yang hadir dalam penciptaan jagat raya.
Al-qur’an menggambarkan kata Asap dengan sangat akurat karena mengandung arti
gumpalan gas hangat bersi partikel-partikel bergerak yang terhubung dengan
substansi padat.1
b. Awal
Alam semesta (Big bang)
Menurut George
Ganow, pada saat permulaan dari timbulnya alam semesta, semua massa
(benda-benda) yang akan membentuk alam semesta seoerti galaxy, gas-gas,
matahari, bintang-bintang, seluruh planet dan stelit serta zat-zat kosmos
lainnya, berkumpul menjadi satu di bawah tekanan yang sangat kuat, sehingga
menyebabkannya pecah dan runtuh berantakan, yang menyebabkan hancur
berkeping-keping, sehingga kepingan itu menajdi bintang-bintang, matahari,
planet, satelit, galaxy dan benda-benda semesta yang lain2.
Dalam ledakan ini
tersimpan sebuah rahasia besar, karena ini adalah sebuah ledakan, materi
seharusnya menyebar secara acak di seluruh penjuru angkasa sebagai atom-atom
atau partikel-partikel sub-atomik. Namun demikian, alam semesta muncul dalam
keteraturannya yang menakjubkan. Atom-atom yang terpancar secara acak berkumpul
paad tempat-tempat tertentu dan bergabung membentuk bintang-bintang, berbagai
tat surya, dan galaxy3. Hal ini terdapat dalam Al-qur’an:
“Dan apakah orang-orang yang kafir
tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu
yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan
segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al-Anbiya, 21: 30)
Kata Ar-ratq dalam
ayat ini menunjukan sebagai sesuatu yang menyatu, digunakan untuk merujuk pada
dua zat yang berbeda yang membentuk satu kesatuan. Sedangkan kata fataqa atau al-fatqu bermakna pemisahan dari dua perkara yang melekat4.
c.
Alam Semesta yang Mengembang
Pada awal abad
ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedman, dan ahli kosmologi Belgia, George
Lemaitre, secara teoritis menghitung bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan
berkembang. Fakta ini dibuktikan dengan menggunakan data pengamatan pada tahun
1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, ahli Astronomi
Amerika, menemukan bahwa bintang dan galaxy terus bergerak saling menjauh5.
Empat belas abad yang Lalu Allah telah mengisyaratkan dalam Al-Qur’an:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya
Kami benar-benar meluaskannya.” (Adz-Dzariat, 51: 47)
d. Akhir
Alam Semesta (Big Crunch)
Setelah berkembangnya sampai maksimum, alam semesta akan
kembali menyusut dan mengecil, sehingga benda-benda langit saling bertumbukan diermas
oleh gaya gravitasi yang maha kuat dan akhirnya masuk kembali dalam
singularitas menuju ketiadaan (hari kiamat). Proses inilah yang disebut
fisikawan kosmolog sebagai teori Big
Crunch kebalikan dari teori Big Bang6. Hipotesis
Ilmiyah Big Crunch telah diisyaratkan
dalam Al-Qur’an sebgai berikut:
“(Yaitu) pada hari Kami gulung
langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan
pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati;
sesungguhnya Kami lah yang akan melaksanakannya.” (Al-Anbiya, 21: 104)
______________________
1. Harun
Yahya, Keajaiban Al-qur’an, hal:7
2. Musthafa
KS, Alam Semesta dan Kehancurannya
menurut al-qur’an & Ilmu Pengetahuan, hal:25
3. Harun
Yahya, Rantai Keajaiban, hal: 5
4. Ahmad
Mushtafa Al-maraghi, terjemah tafsir
Al-maraghi, CV.TOHA PUTRA SEMARANG:1989,
hal: 38
5. Harun
Yahya, Keajaiban Al-Qur’an, hal: 4.

No comments:
Post a Comment