Blogger templates

blog

Pages

Wednesday, March 19, 2014

sejarah pengumpulan al-qur'an masa nabi



A.    Pendahuluan
Al-qur’an pada dasarnya bukanlah tulisan (rasm)akan tetapi merupakan bacaan (qira’ah) dalam arti ucapan dan sebutan. Proses pewahyuan maupun cara penyampain, pengajaran dan periwayatannya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan.[1] Sejak zaman dahulu, yang dimaksud dengan membaca adalah membaca dari ingatan (qara’a an dhahrin qalbin). Tulisan hanya bersifat sebagai penunjang semata-mata. Sebabnya karena ayat-ayat al-qur’an dicatat yakni, dituangkan menjadi tulisan ke atas tulang, kayu, dan dan lain sebagainya, berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatansang qari. Proses transmisi semacam ini, dengan isnad secara mutawatir dari generasi ke generasi, terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian al-qur’an sebagaimana diwahyukan oleh malaikat jibril kepada nabi SAW, dan diteruskan kepada sahabat, demikian hingga hari ini.[2]
B.     Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Nabi Saw
Pengumpulan al-Qur’an pada masa Nabi mempunyai dua makna. Pertama , pengumpulan dalam arti hafadzhahu (menghafalnya dalam hati). Jumma’ul qur’an artinya adalah huffadzhuhu (para penghafalnya, yaitu orang-orang yang menghafalnya dalam hati). Kedua, pengumpulan dalam arti kitabuhu kulihi (penulisan al-qur’an semuanya). Berikut penjelasannya: 
1.      Pengumpulan Bermakna Menghafal
 Al-qur’an turun kepada nabi yang Ummi (tidak bisa baca-tulis). Maka dari pada itu perhatian nabi hanyalah untuk sekedar menghafal dan menghayatinya, agar dapat menguasai al-Qur’an peris seperti apa yang diturunkan, lalu Rasulullah Membacakannya kepada para sahabat agar mereka dapat menghafal dan nenghaayatinya. Biasanya orang-rang yang Ummi itu hanya mengandalkan kekuatan hafalan dan ingatan, karena mereka tidak bisa membaca dan menulis.[3]
Ibnu Abbas Mengatakan, bahwa rasulullah saw sangat ingin segera menguasai al-qur’an yang diturunkan. Ia menggerakan kedua lidah dan bibirnya karena takut apa yang diturukan itu akan terlewatkan. Ia ingin segera menghafalnya. Maka allah menurunkan ayat di atas. Maksudnya adalah kamilah yang akan bertanggung jawab mengumpulkannya di dalam dadamu, kemudian kami akan membacakannya. Frimannya “apabila kami telah membacanya, artinya apabila kami telah menurunkannya kepadamu. Makna ayat “maka itulah bacaannya itu” adalah dengarkan dan perhatikanlah ia. Adapun maksud ayat, kemudian, atas tanggungan kami-lah penjelasannya, yakni menjelaskannya melalui lisanmu. Dalam redaksi lain dikatakan, atas tanggungan kami-lah membacanya. Maka setekah ini turun, rasulullah diam apabila jibril datang. Dlam  redaksi yang berbeda, beliau mendengarkan. Dan bila jibril telah pergi, barulah beliau membacanya sebagaimana diperintahkan Allah.
Rasulullah adalah penghafal al-Qur’an yang pertama[4], dan merupakan contoh paling baik bagi para sahabat dalam menghafalnya, sebagai bentuk cinta mereka kepada sumber agama dan risalah islam.[5] Para sahabat saling berlomba dalam membaca dan mempelajari al-Qur’an. Segala kemampuannya mereka curahkan untuk menguasai dan menghafal al-Qur’an. Mereka mengajarkan kepada keluarganya/istri serta kepada anak-anaknya dirumah masing-masing. Sehingga apabila ada orang yang melewati rumah mereka di waktu malam yang gelap gulita ia akan mendengar alunan al-Qur’an bagaikan gema suara kumbang.[6] Selain itu, para sahabat dalam mempelajari al-Qur’an tidak akan beranjak ke ayat selanjutnya sebelum mereka menghafalnya, memahaminya dan mengamalkannya. Setelah itu barulah para sahabat meneruskan mempelajari al-Qur’an.[7]
Disamping semangat para sahabat untuk mempelajari dan menghafal al-Qur’an. Rasulullah pun mendorong mereka ke arah itu dan memilih orang tertentu untuk mengajarkan al-Qur’an kepada mereka. Ubadah bin ash-Shamit berkata, “apabila ada seorang yang hijrah (masuk islam) nabi menyerahkan kepada salah seorang di antara kami untuk mengajari al-Qur’an. Di mesjid rasulullah sering terdengar gemuruh suara orang membaca al-Qur’an, sehingga rasulullah memerintahkan mereka agar merendahkan suara supaya tidak saling mengganggu.[8]
  Para penghafal al-qur’an pada masa nabi SAW adalah berjumlah tujuh orang yang semuanya tidak terdapat dalam satu riwayat riwayat,[9] akan tetapi terdapat dalam tiga riwayat. Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim Bin Ma’qil Maula Abi Hudaifzh, Muadz bin Jabal, Ubay Bin Ka’ab, Zaid Bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan, dan Abu Darda.[10]
Penyebutan para penghafal al-Qur’an yang berjumlah tujuh atau delapan orang itu tidak berarti pembatasan, karena dalam beberapa keterangan dalam kitab sejarah dan sunan menunjukan bahwa para sahabat berlomba dalam menghafalkan al-Qur’an. Dalam mengomentari riwayat anas “tidak ada yang hafal al-Qur’an kecuali mepat orang, Al-mawari mengatakan, bahwa ucapan anas itu tidak dapat diartikan apa adanya. Sebab, mungkin saja anas tidak mengetahui ada orang lain yang menghafalnya. Bila tidak, maka bagimana ia mengetahui secara persis orang-orang yang hafal al-Qur’an sedangkan para sahabat amat banyak jumlahnya dan tersebar di berbagai wilayah.[11] Abu Ubaid menyebutkan dalam kitab al-Qiraat sejumlah Qari dari kalangan sahabat. Dari kaum muhajirin dia menyebutkan empat orang khalifah, thalhah, sa’ad, ibnu abdullah, aisyah, hafshah, dan ummu salamah. Adapun dari kalangan anshar; ubadah bin ash-shamit, muadz yang dujuluki abu halimah, majma’ bin jariyah, fudhalah bin ubaid dan maslamah bin mukhallad. Ditegaskan bahwa sebagian mereka itu menyempurnakan hafalannya sepeninggal nabi.
2.      Pengumpulan Bermakna Menulis (Kitabah)
Disamping telah mendorong dan menyuruh para sahabat untuk menghafal al_qur’an, Rasulullah juga telah menyuruh mereka menuliskan ayat-ayat al-Qur’an. Perhatian rasulullah terhadap penulisan ayat-ayat al-Qur’an tidak hanya setelah  beliau berada di madinah, tetapi juga selagi beliau masih berada di mekkah. Meskipun pada waktu itu jumlah kaum msulimin masih seidiki dan sarana penulisan masih langka serta kesempatan menuliskan al-auq’an masih terbatas, catatan-catatan yang berisi ayat al-qur’an dapat saja beredar di antara mereka.[12] Peristiwa masuk islamnya Umar Ibn Khattab misalnya, ada hubungannya dengan naskah-naskah yang berisi ayat-ayat al-qur’an yang beredar di mekkah.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah saw. jika turun kepada beliau suatu surat, maka beliau kan memanggil sebagian orang yang akan menulisnya. Lalu belaiu bersabda: “Letakkan surat ini pada tempat yang menyebutkan begini dan begini.” Dan juga dari Zaid ibn Tsabit juga diriwayatkan, katanya: “Kami berada di sisi Rasulullah saw. menyusum Al-Qur’an dari lempengan-lempengan batu.”[13]
Al-qur’an teridiri atas surat-surat dan ayat-ayat, baik yang pendek maupun yang panjang. Penempatan ayat secara tertib adalah secara tauqifi. Az-Zarkasyi dalam Al-burhan mengatakan, “tertib ayat-ayat di dalam surat-surat itu berdasarkan tauqifi dari rasulullah dan atas perintahnya. Jibril menurunkan beberapa ayat kepada rasulullah dan menunjukan kepadanya di mana ayat-ayat itu harus diletakan dalam surat atau ayat-ayat yang sebelumnya turun.[14] Begitu juga sama halnya dengan taetib surat-surat dalam al-Qur’an. Al-kirani dalam al-burhan; “tertib surat seperti yang kita kenal sekarang ini sudah menjadi ketentuan allah dalam lauh al-mahfudz. Menurut tertib ini pula nabi membacakannya dihadapan nabi setiap tahun.[15]
Al-qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap), sebab apabila wahyu turun segera dihafal oleh para qurra dan ditulis oleh para penulis. Dan saat itu belum ada tuntunan kondisi untuk melakukannya dalam satu mushaf, sebab nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang menasakh (menghapuskan) ayat yang turun sebelumnya. Susunan atau tetib penulisan al-qur’an itu tidak menurut tartib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi. Andaikan pada masa Nabi al-qur’an itu seluruhnya dikumpulkan dalam satu mushaf, tentu akan membawa perubahan setiap kali ada wahyu turun.
Az-Zarkasyi berkata: al-qur’an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman nabi agar tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu penulisannya dilakukan kemudian sesudah selesai turun semua, yaitu dengan wafatnya rasululah.[16]
C.    Media Penulisan Wahyu
Adapun cara para sahabat dalam menuliskan al-qur’an pada waktu itu bermacam-macam, antara lain: Al-‘Usb (pelepah kurma), al-Likhaf (batu-batu yang tipis), ar-Riqa’ (potongan dari kulit kayu atau dedaunan), al-Karanif (kumpulan pelepah kurma yang lebar), al-Aqtab ( jamak dari Qatab, yaitu kayu yang diletakkan di punggung unta sebagai alas untuk ditunggangi), Aktaf (jamak dari Katf, yaitu tulang kambing atau tulang unta yang lebar). [17] Hal itu karena pabrik/perusahaan dikalangan orang arab waktu itu belum ada, yang baru ada di negri-negri lain seprti Persia dan romawi tetapi masih sangat kyrang dan tidak disebarkan. Orang-orang arab menuliskannya sesuai dengan perlengkapan yang mereka miliki dan pantas untukdipergunakan untuk menulis.[18]Setelah melakukan penulisan wahyu, para sahabat meletakkan hasil tulisannya di rumah Rasulullah saw, dan masing-masing dari mereka menyimpan satu naskah.
           
D.    Para Penulis Wahyu
Rasulullah SAW mengangkat para penulis wahyu al-qur’an dari sahabat-sahabat terkemuka, yaitu empat orang khalifah, Aliy Bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubai Bin Ka’ab, Zaid Bin Tsabit.[19] Bila ayat turun, Rasulullah memerintahkan mereka menuliskannya dan menunjukann, di mana tempat ayat tersebut dalam surat. Maka penulisan pada penulisan itu membantu penghafalan dalam hati.
Diriwayatkan oleh hakim dalam al-mustadrak dengan sanad yang memnuhi persyaratan Al-bukhari dan muslim, zaid bin tsabit berkata:
كنا عند رسول الله صلي الله عليه وسلم نؤلف القران من الرقاع
Kami menyusun AL-qur’an di hadapan rasulullah pada kulit binatang”[20]
Zaid juga pernah mengatakan: “Aku adalah orang yang menuliskan wahyu di hadapan rasulullah saw dan beliau yang mendiktekannya kepadaku. Apabila aku sudah menuliskannya beliau bersabda, baca! Aku kemudian membacanya. Jika ada kekurangan padanya, beliau kemudian yang mengoreksi dan membetulkannya”.[21]
Sebagian sahabat juga menulis al-Qur’an atas inisiatif sendiri sesuai denga kebutuhan mereka masing-msaing. Para sahabat senantiasa menyodorkan al-Qur’an keada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.   Tulisan-tulisan al-Qur’an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf. Biasanya yang ada di tangan seorang sahabat misalnya, belum tentu dimiliki oleh sahabat yang lain.[22]
E.     Kesimpulan
Pengumpulan al-Qur’an pada masa Nabi terbagi menjadi dua periode, pertama pengumpulan dalam dada berupa penghafalan dan penghayatan. Kedua, pengumpulan dalam dokumen atau catatn berupa tulisan. Para penulis wahyu menuliska al-Qur’an pada pelepah kurma, kepingan batu, kulit/daun kayu, tulang binatang dan sebagainya. Susunan ayat-ayat dan surat-surat yang tersusun dalam al-qur’an adalah tauqifi dari rasulullah. Diantara para penulis wahyu adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim Bin Ma’qil Maula Abi Hudaifzh, Muadz bin Jabal, Ubay Bin Ka’ab, Zaid Bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan, dan Abu Darda.

F.     Daftar Pustaka
ar-Rumi , Fahd bin Abdurrahman, Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997
H.A Athaillah, sejarah al-Qur’an, Yogyakarta: Pusataka Pelajar, 2010
Al-Qathan, Manna, Mabaahits Fii Ulum al-Qur’an, Riyadh: Dar ar-Rasyid
Al-Zarqani , Muhammad Abdul Adzim, Manahil Al-‘Urfan Fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), hlm. 265.
Aliy Ash-Shabuni, Muhammad, At-tibyan Fii Ulum al-Qur’an, jakarta: Dar Kutub Al-Islamiyyah, 2003
St Amanah, Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir, Semarang:Asy Syifa, 1993
Shalih, Subhi, Mabaahits Fii Ulum al-Qur’an, beirut: Dar al-Ilmi Lilmalaayiin, 1988
Arif , Syamsuddin, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008
Adnan Amal, Taufik, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an, Jakarta: yayasan abad modern, 2011
Qayyum, Abdul, Shafahat fi ulum al-Qiraat,


[1] Karena pada saat al-qur’an diturunkan bangsa arab berada dalam budaya yang begitu tinggi, ingatan mereka sangat kuat dan hafalannya cepat serta dya pikirannya begitu terbuka. Orang-rang arab banyak yang hafal berates-ratus ribu syair dan mengetahui silsilah serta nasab keturunannya. Mereka dapat mengungkapkannya di luar kepala dan mengetahui sejarahnya. Sangat jarang sekali diantara mereka yang tidak bias mengungkapkan silsilah dan nasab tersebut atau tidak hafal yang begitu banyak syairnya lagipula sulit dalam mengahafalnya
[2] Syamsuddin Arif, orientalis dan diabolisme pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008, hlm 10
[3] Muhammad Aliy Ash-Shabuni, At-tibyan Fii Ulum al-Qur’an, (jakarta: Dar Kutub Al-Islamiyyah, 2003), hlm. 50. Friman allah yang menunjukan bahwa nabi Ummi terdapat dalam Q.S al-Jumu’ah:2.
[4] Subhi shalih dalam mabahist menyebutkan bahwa nabi adalah sayyidul Huffadz, hlm 65.
[5] Manna al-Qathan, mabahits fii Ulum al-Qur’an, hlm 119
[6] Muhammad Aliy Ash-Shabuni, At-tibyan Fii Ulum al-Qur’an, (jakarta: Dar Kutub Al-Islamiyyah, 2003), hlm. 51
[7] Abdul Qayyum bin Abdul Ghafur al-Sindi, shafahat fi ulum al-Qira’at, hlm 34
[8] Subhi Shalih, mabahits fi   ulum al-qur’an, Beirut: Dar ilm lil malayin: 1988, hlm 68
[9] Subhi Shalih, mabahits fi ulum al-qur’an, Beirut: Dar ilm lil malayin: 1988, hlm 50
[10] Pertama. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, ia berkata: aku mendengar rasulullah bersabda, ambilah al-Qur’an dari empat orang sahabatku; Abdullah bin mas’ud, salim, muadz, dan Ubay bi ka’ab. Keempat orang tersebut dua orang dari muhajirin yaitu abdullah bin mas’ud dan salim, dan dua orang dari Anshar, yaitu muadz dan ubay. Kedua diriwayatkan dari qatadah, ia berkata, “aku bertanya kepada anas bin malik, siapakah orang yang mengumpulkan al-qur’an di masa rasulullah? Dia menjawab, empat orang, semuanya dari kaum anshar; ubay bin ka’ab, muadz bin jabal, zaid bin tsanit, dan abu zaid. Aku bertanya lagi, siapa abu zaid? Salah seorang pamanku, jawabnya. Ketiga diriwayatkan melalui tsabit, dari anas katanya, “rasulullah wafat sedang al-Qur’an belum dihafal kecuai oleh empat orang; abu darda, muadz bin jabal, zaid bin tsabit dan abu zaid.
[11] Manna al-Qathan, mabahits fii Ulum al-Qur’an, hlm 121
[12] H.A Athailah, sejarah al-Qur’an, yogyakarta: pustaka pelajar, 2010, hlm 198
[13] Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqani, Manahil Al-‘Urfan Fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), hlm. 265.
[14] Manna al-Qathan, mabahits fii Ulum al-Qur’an, hlm 140
[15] Ada tiga pendapat mengenai tartib surat-surat dalamn al-qur’an, pertama yang berpendapat  bahwa tartib surat itu adalah tauqifi dan ditangani langsung oleh nabi sebagaimana diberitahukan oleh malaikat Jibril kepadanya atas perintah Allah. Dengan demikian, al-qur’an pada masa nabi telah terusun surat-suratnya secara tertib. Kedua ada yang berpendapat bahwa tartib surat itu berdasarka ijtihad para sahabat,sebab ternyata ada perbedaan tartib di dalam mushaf mereka. Misalnya mushaf Ali disusun menurut tartib nuzul, yakni dimulai dari iqra’, kemudian al-muddatsir, lalu nun, al-qalam, kemudian al-muzzmmil, hingga akhir surat makiyyah dan madaniyyah. Adapun dalam mushaf Ibnu Mas’ud, yang pertama ditulis adalah al-baqarah, kemudian AN-Nisa, Lalu Ali Imran. Sedangkan dalam mushaf Ubay, yang pertama ditulis adalah al-fatihah, Al-baqarah, An-Nisa, lalu Ali Imran. Ketiga berpendapat bahwa sebagian surat itu tartibnya bersifat tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat. Hal ini karena terdapat dalil yang menunjukan tartib sebagian surat pada masa nabi. Misalnya, keterangan yang menunjukan tartib as-sab’u thiwal, al-hawamim, dan al-mufhashal pada masa hidup Rasulullah. Dan pendapat inilah yang benar.
[16] Subhi Shalih, mabahits fi ulum al-qur’an, Beirut: Dar ilm lil malayin: 1988, hlm 73. Sedangkan menurut Aliy Ash-Shabuni dalam at-Tibyaan fii ulum AL-Qur’an memperinci dalam lima alas an. Pertama, al-qur’an tidak turun sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya dalam satu mushaf. Kedua, sebagian ayat ada yang di mansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin di bukukan dalamsatu mushaf. Ketiga, susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan kalimat. Keempat, masa turunnya wahyu terakhir denngan wafatnya nabi sangat pendek/dekat. Setelah ayat terakhir turun yaitu surah al-baqarah ayat 281, rasul hanya hidup selama Sembilan hari. Dengan demikian masanya sangat relative singkat, yang tidak mungkin untuk menyusun atau membukukannnya sebelum sempurna turunnya wahyu. Kelima, tidak ada motivasi yang mendorong untuk mengumpulkan al-qur’an menjadi satu mushaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang islam dalam keadaan baik, ahli baca (para Qurra) begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa abu bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau al-qur’an akan lenyap.
[17] Fahd bin Abdurrahman ar-Rumi, Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997).
[18] Muhammad Aliy Ash-Shabuni, At-tibyan Fii Ulum al-Qur’an, (jakarta: Dar Kutub Al-Islamiyyah, 2003), hlm. 53
[19] Subhi Shalih, mabahits fi   ulum al-qur’an, Beirut: Dar ilm lil malayin: 1988, hlm 69
[20] Subhi Shalih, mabahits fi   ulum al-qur’an,, hlm 69
[21] H.A Athailah, sejarah al-Qur’an, yogyakarta: pustaka pelajar, 2010, hlm 196
[22] Manna al-Qathan, mabahits fii Ulum al-Qur’an, hlm 124

No comments:

Post a Comment